Jakarta, 22 Agustus 2025 – Rapat Pleno Semester I 2025 Muslimah ABI dibuka dengan sambutan mendalam dari Ustadz Zahir Yahya, Ketua Dewan Pembina Lembaga Otonom. Dalam momen yang khidmat, beliau mengawali dengan menyampaikan belasungkawa atas peringatan wafatnya Nabi Muhammad saw. dan Imam Abu Muhammad Hasan Al-Mujtaba a.s. Ustadz Zahir menggambarkan kehilangan Nabi sebagai musibah besar, …




Jakarta, 22 Agustus 2025 – Rapat Pleno Semester I 2025 Muslimah ABI dibuka dengan sambutan mendalam dari Ustadz Zahir Yahya, Ketua Dewan Pembina Lembaga Otonom. Dalam momen yang khidmat, beliau mengawali dengan menyampaikan belasungkawa atas peringatan wafatnya Nabi Muhammad saw. dan Imam Abu Muhammad Hasan Al-Mujtaba a.s.
Ustadz Zahir menggambarkan kehilangan Nabi sebagai musibah besar, laksana “bumi yang kehilangan hujan,” sebuah perumpamaan yang pernah diungkapkan Sayyidah Fatimah az-Zahra. Beliau mengingatkan, hanya mereka yang sungguh memahami kedudukan Rasulullah yang bisa benar-benar merasakan dalamnya duka ini. Untuk menegaskan betapa panjangnya jejak kesedihan tersebut, beliau menceritakan bagaimana Imam Ali a.s. masih merasakan suasana berkabung bahkan 27 tahun setelah wafatnya Nabi.
Beliau juga mengisahkan detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah saw. yang begitu mengharukan, ketika Nabi menenangkan putrinya, Fatimah, dengan kabar bahwa dialah yang pertama kali dari keluarga yang akan menyusul beliau. Kisah ini, menurut Ustadz Zahir, menjadi teladan tentang cinta, penghiburan, dan ikatan abadi antara Nabi dan keluarganya.
Beranjak dari refleksi sejarah, Ustadz Zahir mengaitkan pesan spiritual itu dengan realitas organisasi. Beliau mengingatkan bahwa dalam berkhidmat di Muslimah ABI, pengurus dan anggota akan selalu berhadapan dengan tantangan, baik godaan duniawi seperti harta, jabatan, dan ketenaran, maupun kesulitan karena identitas mereka sebagai pecinta Ahlulbait: kritik, pembatasan sosial, bahkan hambatan dalam urusan ekonomi.
Untuk menghadapi semua itu, beliau menekankan pentingnya dua konsep Islam: istiqamah (keteguhan dalam kebaikan) dan muqawamah (ketahanan atau perlawanan terhadap hambatan). “Istiqamah tidak mungkin terwujud tanpa muqawamah,” tegas beliau. Artinya, setiap langkah kebaikan akan selalu menuntut perjuangan dan daya tahan. Dalam konteks Muslimah ABI, istiqamah berkhidmat hanya bisa dicapai bila para pengurus siap melawan tantangan dengan sabar, tekun, dan penuh kesadaran.
Sambutan itu ditutup dengan dorongan optimisme. Ustadz Zahir menyampaikan keyakinannya bahwa Muslimah ABI memiliki kapasitas besar untuk terus maju, sekaligus memuji kepemimpinan Ustadzah Hayati dan solidaritas seluruh tim. Dengan doa bersama, beliau pun meresmikan pembukaan Rapat Pleno Semester I 2025 Muslimah ABI, mengikat acara tersebut dalam semangat keikhlasan dan cinta kepada Ahlulbait.







