Fajar 4:40 am

Zuhr 11:56 pm

Asr 15:18 pm

Maghrib 17:48 pm

 Isha 19:03 pm

[22 Oktober 2025] – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Pimpinan Nasional Muslimah Ahlulbait Indonesia sukses menyelenggarakan Webinar Nasional Madrasah Diniyah Ahlul Bait (Madin) dengan mengusung tema "Pendidikan Madin; Selamatkan Generasi Pelanjut Pecinta Ahlul Bait." Acara ini menyoroti urgensi Madin sebagai solusi strategis untuk menghadapi tantangan kelangsungan komunitas Ahlul Bait di Indonesia. Madin dan Estafet …


[22 Oktober 2025] – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Pimpinan Nasional Muslimah Ahlulbait Indonesia sukses menyelenggarakan Webinar Nasional Madrasah Diniyah Ahlul Bait (Madin) dengan mengusung tema “Pendidikan Madin; Selamatkan Generasi Pelanjut Pecinta Ahlul Bait.” Acara ini menyoroti urgensi Madin sebagai solusi strategis untuk menghadapi tantangan kelangsungan komunitas Ahlul Bait di Indonesia.

Madin dan Estafet Keadilan
Ketua Pimnas Muslimah ABI, Ustazah Hayati Muhammad, Lc., dalam sambutannya menekankan pentingnya Madin sebagai sarana utama memperkenalkan ajaran Ahlul Bait dan menanamkan nilai-nilai keilmuan serta kebangsaan. Pendidikan diniah ini merupakan pondasi spiritual yang vital dalam membentuk hati, karakter, dan jiwa anak, sehingga siap menghadapi berbagai tantangan zaman.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Lembaga Otonom Muslimah Ahlulbait Indonesia, Ustadz Zahir bin Yahya, menyoroti bahwa Madin harus mampu mencetak generasi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berkomitmen terhadap keadilan. Ustadz Zahir mengingatkan bahwa penetapan Hari Santri Nasional bertepatan dengan tanggal diterbitkannya Resolusi dan Fatwa Jihad, menunjukkan bahwa santri harus aktif melawan tirani, sebagaimana tercermin dalam filosofi ajaran Islam yang diturunkan untuk menegakkan keadilan (Q.S. Al-Hadid: 25).


Menghadapi Ancaman ‘Generasi yang Hilang’
Ustadz Zahir juga memaparkan realitas ancaman serius yang dihadapi komunitas, yakni fenomena terputusnya generasi pelanjut dari generasi awal. Fenomena ini terjadi ketika anak-anak hanya mewarisi label mazhab tanpa mendapatkan transformasi pengetahuan, keyakinan, dan kepuasan intelektual yang memadai.
Meskipun lingkungan keluarga adalah madrasah pertama, faktanya banyak orang tua yang tidak memiliki kapasitas atau waktu untuk melaksanakan tugas pendidikan agama secara efektif. Di sinilah peran Madin menjadi sangat krusial. Madin harus hadir sebagai solusi dengan fungsi yang lebih komprehensif, tidak hanya memindahkan informasi, tetapi juga menumbuhkembangkan moralitas dan membentuk kepribadian.

Madin: Komunitas Penguat Akidah Anak
Testimoni dari Ibu Sakinah Almahdali, salah seorang wali murid Madin TPQ Al-Kautsar Bogor, memperkuat urgensi Madin. Beliau menceritakan bagaimana Madin memberikan dampak signifikan pada anak-anaknya, mulai dari munculnya inisiatif salat tanpa paksaan, hingga kemampuan anak menerapkan ilmu fikih dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Ibu Sakinah, Madin bukan hanya kebutuhan bagi orang tua yang minim ilmu, tetapi juga penting bagi anak-anak untuk mendapatkan atmosfer dan komunitas yang seakidah. Hal ini sangat penting untuk menguatkan keyakinan anak dan membuat mereka menyadari bahwa mereka tidak sendirian.


Madin Ahlul Bait Indonesia, oleh karena itu, merupakan anugerah yang wajib disyukuri. Dengan mengikutsertakan putra-putri ke Madin, orang tua telah berikhtiar memenuhi tiga tugas pokok: mendidik anak mencintai Rasulullah, mencintai Ahlul Bait, dan membaca Al-Qur’an. Pimnas Muslimah ABI mengajak seluruh pihak untuk terus mengembangkan dan mendirikan Madin di berbagai wilayah demi menjamin kelangsungan generasi pecinta Ahlul Bait yang berakidah kuat, berakhlak mulia, dan siap menyambut penolong Imam Zaman.

Admin Muslimah ABI

Admin Muslimah ABI

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *